Wednesday, 30 June 2010

StrengthFinder

Setengah tahun appraisal. Saya dan kawan sekerja telah diminta untuk menjalani ujian antarabangsa online strengthfinder yang dijalankan oleh Gallup University. Di bawah ini adalah keputusan “kekuatan” saya. Oleh kerana tak puas hati sebab soalan soalannya otomatik bertukar dalam masa 1 saat, saya bertanya kepada bos saya sama ada boleh tak kalau saya nak buat sekali lagi. Bos saya kata; “Boleh. Yang ni I register untuk you all I guna bajet department, kena bayar USD300(!)”. Oh…tak payahlah hehehe. Ingatkan macam ujian biasa yang kita selalu buat kat internet atau email tu, boleh buat banyak kali tak keluar sesen pun. Bayar internet je. Bos saya cakap, kalau kita buat banyak kali pun, keputusannya tetap sama sebab yang menjawab soalan tu adalah orang yang sama. Kita adalah kita. Maka soalan bertukar macam mana pun, jawapannya tak akan lari banyak. Sebanyak 117 soalan semuanya. Kena baca soalan dan jawab dengan cepat sebab soalan otomatik akan masuk page lain kalau lambat.

Keputusannya ada 34 strengthfinder saya. Ini adalah top 5 yang telah diperincikan.

Empathy
You can sense the emotions of those around you. You can feel what they are feeling as though their feelings are your own. Intuitively, you are able to see the world through their eyes and share their perspective. You do not necessarily agree with each person’s perspective. You do not necessarily feel pity for each person’s predicament—this would be sympathy, not Empathy. You do not necessarily condone the choices each person makes, but you do understand. This instinctive ability to understand is powerful. You hear the unvoiced questions. You anticipate the need. Where others grapple for words, you seem to find the right words and the right tone. You help people find the right phrases to express their feelings—to themselves as well as to others. You help them give voice to their emotional life. For all these reasons other people are drawn to you.

Discipline
Your world needs to be predictable. It needs to be ordered and planned. So you instinctively impose structure on your world. You set up routines. You focus on timelines and deadlines. You break long-term projects into a series of specific short-term plans, and you work through each plan diligently. You are not necessarily neat and clean, but you do need precision. Faced with the inherent messiness of life, you want to feel in control. The routines, the timelines, the structure, all of these help create this feeling of control. Lacking this theme of Discipline, others may sometimes resent your need for order, but there need not be conflict. You must understand that not everyone feels your urge for predictability; they have other ways of getting things done. Likewise, you can help them understand and even appreciate your need for structure. Your dislike of surprises, your impatience with errors, your routines, and your detail orientation don’t need to be misinterpreted as controlling behaviors that box people in. Rather, these behaviors can be understood as your instinctive method for maintaining your progress and your productivity in the face of life’s many distractions.

Restorative
You love to solve problems. Whereas some are dismayed when they encounter yet another breakdown, you can be energized by it. You enjoy the challenge of analyzing the symptoms, identifying what is wrong, and finding the solution. You may prefer practical problems or conceptual ones or personal ones. You may seek out specific kinds of problems that you have met many times before and that you are confident you can fix. Or you may feel the greatest push when faced with complex and unfamiliar problems. Your exact preferences are determined by your other themes and experiences. But what is certain is that you enjoy bringing things back to life. It is a wonderful feeling to identify the undermining factor(s), eradicate them, and restore something to its true glory. Intuitively, you know that without your intervention, this thing—this machine, this technique, this person, this company—might have ceased to function. You fixed it, resuscitated it, rekindled its vitality. Phrasing it the way you might, you saved it.

Developer
You see the potential in others. Very often, in fact, potential is all you see. In your view no individual is fully formed. On the contrary, each individual is a work in progress, alive with possibilities. And you are drawn toward people for this very reason. When you interact with others, your goal is to help them experience success. You look for ways to challenge them. You devise interesting experiences that can stretch them and help them grow. And all the while you are on the lookout for the signs of growth—a new behavior learned or modified, a slight improvement in a skill, a glimpse of excellence or of “flow” where previously there were only halting steps. For you these small increments—invisible to some—are clear signs of potential being realized. These signs of growth in others are your fuel. They bring you strength and satisfaction. Over time many will seek you out for help and encouragement because on some level they know that your helpfulness is both genuine and fulfilling to you.

Responsibility
Your Responsibility theme forces you to take psychological ownership for anything you commit to, and whether large or small, you feel emotionally bound to follow it through to completion. Your good name depends on it. If for some reason you cannot deliver, you automatically start to look for ways to make it up to the other person. Apologies are not enough. Excuses and rationalizations are totally unacceptable. You will not quite be able to live with yourself until you have made restitution. This conscientiousness, this near obsession for doing things right, and your impeccable ethics, combine to create your reputation: utterly dependable. When assigning new responsibilities, people will look to you first because they know it will get done. When people come to you for help—and they soon will—you must be selective. Your willingness to volunteer may sometimes lead you to take on more than you should.

Tuesday, 29 June 2010

Jaga Kesihatan Biar Berpada

Hari Sabtu lepas – nampaknya semua cerita saya berlaku hari Sabtu – selepas ke pejabat pos untuk pos telekung kepada seorang kawan yang berada di UK yang dah lama saya janji - saya ke Cold Storage di Wangsa Walk.

Selepas selesai semuanya, saya ke booth NKF (National Kidney Foundation) untuk bertanyakan subscription bulanan saya yang kelihatannya telah terputus. Selalunya setiap bulan akan tercatat “NKF” di dalam penyata kad kredit saya. Sekarang tidak lagi. Saya mula sedar bila saya buat subscription bulanan untuk MAKNA minggu lepas. Mungkin kerana lambat bayar, kad kredit saya telah disekat dan NKF tidak dapat melakukan direct debitnya bulan itu. Saya rasa agakan saya ini tepat.

Bukan itu yang hendak saya cerita. Ketika saya sampai di booth itu, saya macam kenal staf kat situ. Dia pun cakap dia macam kenal saya. Memang benar. Kami pernah bekerja di bawah satu bumbung. Seorang wanita india. Dia sudah meninggalkan syarikat setelah 35 tahun bekerja. Sekarang dia sudah sampai usia pencen dan mula berjinak jinak dengan kerja amal. Semasa dia meninggalkan syarikat, dia hanya ada 6 bulan untuk pencen.

Soalan pertama dia tanya saya; “Did you know XXX has died?”. Dengan muka terkejut saya bertanya bila.

Dia mula pot pet pot pet seperti yang saya kenal. Bla…bla…bla… loads of work…ocean of emails… hypertension…heart attack…bla…bla…bla.

Hilang pada hendak bertanya tentang subscription bulanan saya, saya mendapat banyak nasihat berguna daripadanya tentang penjagaan kesihatan. Bekas suaminya seorang doktor banyak mengajarnya tentang langkah langkah awal menyelamatkan nyawa seseorang ketika mendapat serangan jantung. Katanya lagi, seseorang yang terkena serangan jantung tidak sepatutnya mati andai orang orang disekitarnya tahu cara cara menyelamatkannya ditambah dengan belum sampai ajal (ok, ayat yang akhir ni saya yang tambah).

Dia banyak bagi saya tips makanan makanan yang baik untuk diambil. Walaupun dah tahu, raikan sajalah nasihatnya. Salah satu yang saya ingat adalah roti berjenama Adventist. Harganya sebuku lebih kurang RM9(!). Boleh gadai tanah nak beli roti ni setiap minggu. Saya rasa hanya ada jual di Cold Storage sebab saya survey kat Mercato Pavilion tak ada.

Memang benarlah orang kata, bila kita sihat, kita sibuk cari duit untuk hidup senang hingga mengabaikan kesihatan. Bila dah sakit, kita cari duit juga untuk mengubati sakit.

Dia menambah, amat senang untuk kita jaga kesihatan hanya dengan mengelak pengambilan:

1. Nasi putih
2. Gula putih
3. Garam putih

Tapi, lidah orang melayu boleh ke elak nasi?

Alternatifnya:

1. Beras perang
2. Gula Perang
3. Garam perang(?) Ada ke garam perang hehehe. Dia tak sebut la garam perang.

Saya nak tambah, selain daripada mengelak perkara di atas selalulah senyum dan sesekali ketawa walaupun kita dalam keadaan stress bekerja seharian.

Gloss: Saya mengenali dia seorang yang serius. Susah nak tengok dia senyum apalagi ketawa. Sekarang dia terpaksa mengambil ubat tekanan darah sebanyak 80mg per tablet. Kadar ini adalah tinggi(!)

Monday, 28 June 2010

Drama Itu

Pertama kali saya dengar tajuk drama itu ketika dipromosikan “Datang Bulan”, saya berkata di dalam hati “macamlah tak ada tajuk lain”. Ada suara di dalam kepala saya mengatakan mungkin drama itu adalah drama seram yang berlakunya ketika bulan datang/mengambang agaknya.

Sabtu lepas sebelum saya keluar ke pejabat pos, saya dengan tak sengaja telah menonton ulangan drama ini. Sejak berleluasanya drama dan filem seram sejak akhir akhir ini, saya tak pernah lagi menonton genre sebegini di waktu malam berseorangan. Ternyata ia memang berkenaan dengan kisah datang bulan.

Hoh….saya amat terperanjat dan terkeluar perkataan dari mulut saya ketika menonton tu “iiihhh…mengarut” ketika kamera mengambil shot jarak dekat tuala wanita yang dipenuhi darah seorang gadis yang menukar napkinnya di belakang pokok besar dan napkin terpakai itu telah diletakkan saja di tepi pangkal pokok itu. Dia berekspedisi dengan kawan kawannya ke Taman Negara.

Ye ye…saya tahu. Ia air sirap atau apa apa saja cecair yang berwarna merah yang dititikkan di atas napkin wanita. Ia hanya lakonan. Saya tahu. Cuma saya fikir, di dalam banyak banyak benda, kenapalah “rahsia” itu dizahirkan walaupun dalam bentuk palsu.

Saya sentuh dari sisi wanita sahajalah ye. Daripada sisi lelaki tentang drama ini saya tak mahu sentuh.

Ok, cerita itu bukanlah tak elok. Sifat empati saya mengatakan cerita ini membawa pengajaran untuk wanita sebenarnya. Setiap wanita harus berhati hati dan menjaga rahsia mereka secara betul dan baik kerana ia juga ada haknya. Ia adalah kejadian Allah. Maka tempatkan ia di tempat yang sepatutnya. Kita tidak sedar dan mengambil ringan kerana kita merasakan ia adalah kotor yang sepatutnya dibuang. Ye, memang sepatutnya dibuang tetapi ada cara yang betul dan baik. Maka, bertanggungjawablah.

Thursday, 24 June 2010

Takut Sikit Je...Hahaha...Tipu

Semalam saya dah taip satu entry terus dalam kotak new post. Tengah taip taip tiba tiba teringat berkenaan dengan hal HR menyebabkan saya terus klik ke sistem HR. Tiba tiba lagi sekali, kotak entry yang saya tengah taip tu bertukar kepada kotak sistem HR. Aduhhh…dah la tak klik butang save. Saya tau ia auto save tapi bila dah jadi macam tu, terus anti klimaks. Terus saya tak ada mood nak teruskan taip. Kronik betul hormon ni kan?

Saya periksa entry tu dalam draft, memang ada tapi nak teruskan entry tu, flownya dah hilang. Alah…macam wartawan hiburan pulak kau ni el nak ada flow bagai.

Itulah sebabnya saya selalu tulis entry dalam Word format. The rest is history.

Saya baru mula baca novel Yuda Di Padang Maya (YDPM) karya Xarine. Shhh…jangan bagitahu dia saya tulis pasal novel dia dalam ni tau. Saya kategorikan YDPM macam novel misteri/thriller. Kalau salah tolong betulkan ye Xarine. Alamak…pergi tanya dia pulak. Kang dia tau la saya tulis pasal novel dia ni. Ramlee Awang Murshid (RAM) juga pernah buat novel misteri/thriller. Contohnya Ungu Karmila. Boleh dikatakan kebanyakan novel RAM dalam kategori itu. Saya belum pernah rasa takut baca mana-mana novel RAM termasuk Ungu Karmila. Tapi bila saya baca YDPM malam tadi saya rasa takut sangat. Dah la saya baca malam hari dengan lampu padam. Cuma lampu membaca je saya pasang. Masuk bab 7 terus saya tutup novel. Saya cakap dalam hati, saya cuma akan sudahkan YDPM pada siang hari sahaja.

Wohhh….watak syaitannya, membuatkan saya membayangkan bagaimana rupa makhluk tu dengan loceng locengnya muahahaha.

Tuesday, 22 June 2010

Kesian Hari Isnin

Ramai orang suka sebut ni: "I hate mondays".

Errghh...siapa yang suka hari Isnin kan? Sakit semua sendi bila bangun nak pergi kerja ahakss. Sayalah tu. Kerja memang dah sedia banyak. Ditambah lagi dengan tak sempat siap hari Jumaat. Lemah seluruh semangat bila bangun pagi hari Isnin. Tapi yang bestnya hari Sabtu Ahad tak risau pulak kerja belum siap. Sekaranglah.

Kesian hari Isnin. Tak pasal pasal orang tak suka "dia".

Kalau dulu, hari Sabtu Ahad pun teringat kerja kat pejabat yang belum siap. Boleh pulak pergi pejabat hari sabtu dan ahad. Gila kerja betul. Tanggungjawab sebenarnya. Kadang-kadang tu bukan buat kerja sangat. Berangan yang lebih. Bila dah sampai jam 5pm baru terhegeh hegeh buat kerja sebab nak balik jam 6pm atau 7pm. Tak penat. Sebab kalau tak pergi pejabat pun tak ada apa nak buat kat rumah.

Yang tak suka dengan hari Isnin ni kucing. Kucing Garfield. Eh ye ke "dia" tu kucing? Kalau masa kecik, teringin sangat nak beli barangan kucing ni. Tengok kawan kawan ada barangan kucing ni, terpaksa pendamkan je. Tak mampu nak beli. Mahal. Mampu tengok je. Macam macam barangan kucing ni. Dari bekas pensil hinggalah ke beg sekolah.

Bila dah kerja tak teringin pulak nak beli semua jenis barangannya. Pernah sekali je saya beli keychain yang ada huruf I. Entah mana keychain tu sekarang. Bila dah dapat buat dek pulak. Bila dah mampu beli, tak teringin pulak. Masa birthday saya tahun 2007, si Min dan Zita hadiahkan saya selipar tidur Garfield. Adehhh...dah tua ni rasa macam budak budak pulak dapat selipar tidur Garfield. Tapi masa dapat tu happy la sesangat sebabnya saya tak payah beli sendiri. Kalau nak harap saya beli, alamatnya kambing tumbuh janggut dan tanduk pun belum tentu saya beli.

Sekarang ni dah bermacam barangan budak budak yang ada di pasaran. Dora The Explorer la, Power Puff Girl la, Strawberry Shortcake la, Winnie The Pooh la dan macam macam "la" lagi lah. Yang nyata barangan ni bukan Barangan Buatan Malaysia.

Monday, 21 June 2010

Beruntung Budak-budak Sekarang

Hari ni makcik nak caca marbakan perkataan dan ayat. Dengan izin ye. Dah lama rupanya makcik tak buat entry "Sembang Dengan Diari". Tapi yang ni bukan.

Budak budak sekarang ni beruntung betul kan? Bermula dari boleh memilih mata pelajaran yang disukai hinggalah kepada cadangan pemansuhan peperiksaan UPSR dan PMR.

Masa zaman makcik dulu, tak boleh pilih pilih de. Mesti ambik. Semua pulak tu. Jangan mengada ngada nak pilih. Yang boleh pilih ialah, sama ada nak lulus dengan tidak je. Nak lulus, belajar. Tak nak lulus, buat la apa apa supaya tak lulus. As simple as that. Haaa...kan makcik dah speaking ni.

Kalau ada yang masih malas lagi nak belajar dan nak ke sekolah tu tak tau lah.

Tapi kan...tiba tiba terus ambik SPM. Sukatan pelajaran untuk ambik peperiksaan SPM tu bermula dari mata pelajaran tingkatan 1 atau tingkatan 4? Ayat macam orang dengki je hehehe. Kalau dari tingkatan 4, ok lagi lah. Tak banyak sangatlah nak ulangkaji. Itu pun ada jugak yang malas. Macam saya dulu. Tapi kalau bermula dari tingkatan 1, alamatnya lepas ni ada pulak yang kena mansuhkan SPM. Ambik UPSR je. Muahahaha....

Wahai lah anak anak, belajarlah untuk diri sendiri dan masa depan. Bukan kerana peperiksaan. Jangan jadi macam makcik. Esok nak exam, hari ni baru bukak buku. Tak tidur. Esok nak hantar assignment, hari ni menghadap PC sampai ke tengah malam. Kalau buat betul betul tak apa. Ni main copy paste je. Cover depan je harap cantik.

Friday, 18 June 2010

Merungut

Dah mula puasa ke semua? Saya belum lagi.

Sejak balik dari kampung, saya kurang sihat pulak. Kat sana sudahlah cuaca memang panas, ditambah pulak dengan rumah arwah nenek saya tu kata bahagian dalamnya di cat dengan warna perak. Lagilah bertambah panas. Tak taulah siapa punya idea. Beberapa tahun lepas abah saya tukar cat bahagian ruang tamu dengan warna hijau muda. Kuranglah panas sikit ruang tamu tu. Merungut lagi.

Banyaknya nak tulis tapi tak sempat-sempat.

Apa yang sempat ialah saya nak mengucapkan selamat menyambut bulan Rejab dan selamat berpuasa.

Thursday, 10 June 2010

Jom....

Saya akan bercuti. Tulis blog pun cutilah juga ye. Ke Temerloh untuk kenduri tahlil arwah, doa selamat dan cukur jambul. Saya dapat adik baru :-) Muhammad Adam Muslim Mohd Harith. Mohd Harith tu adik abah saya yang bongsu. Pakcek saya. Rasanya 4 tahun menunggu Adam. Alhamdulillah. Semoga menjadi soleh dan Al-Hafiz macam walidnya, insya-Allah. Entah bila pula akan dapat Siti Adamiah Muslimah pula...hehehe.
Jom, cuti ikut saya :-)

Jumpa anda lagi minggu depan ye, insya-Allah. Jaga diri. Jangan lupa tanggungjawab kita.

Wednesday, 9 June 2010

Untung Ke Rugi?

Hari tanpa beg plastik. Untung atau rugi?

Pemandu teksi bising mengatakan dia dah menunggu penumpang lebih daripada satu jam di hadapan Jaya Jusco. Selain daripada hari sabtu keadaannya tak begitu. Jaya Jusco menjalankan kempen Hari Tanpa Beg Plastik setiap Sabtu. Cold Storage pula pada hari Khamis dan Sabtu. Pemandu teksi kata hari Sabtu memang kurang orang sekarang sebab orang taknak susahkan diri punggah barang satu-satu dari troli ke dalam teksi. Bila turun dari teksi, terpaksa pulak punggah barang satu-satu dari teksi ke depan rumah. Maka berderetlah depan rumah dengan barang-barang dapur yang baru dibeli. Macam jualan penghabisan stok je. Itu kalau rumah teres. Kalau rumah merpati macam saya? Hoh...kena susun barang-barang satu-satu depan rumah jiran. Turun naik turun naik hantar barang. Idok le teman. 10 kali turun naik, luruh semua rambut. Memang patutlah ramai orang taknak keluar hari Sabtu ke Jusco. Kalau nak beg plastik jugak, Jusco kenakan harga 20 sen sekeping. Nasib baiklah hari yang saya pergi tu saya memang bawak shopping bag. Kebetulan. Saya tahu tentang kempen hari tanpa beg plastik tu tapi saya tak tahu pulak sampai macam tu kisahnya. Jusco kurang orang, menyebabkan barang kurang laku. Pemandu teksi kurang pendapatan bagi yang mana yang memang mencari pendapatan di sekitar Jusco. Itu penangan kempen hari tanpa beg plastik.

Pusat membeli belah seperti Jusco tidak harus menyerah kalah dengan keadaan ini. Ini adalah permulaan untuk mendidik rakyat Malaysia. Diulangi mendidik. Ia adalah untuk kesan jangka panjang. Bukan untuk sementara. Ada faedahnya kalau kita mengetahui. Itu baru satu hari tanpa beg plastik. Dibuatnya beg plastik dinyahkan penggunaannya selama-lamanya? Kita terpaksa jugak bawak beg sendiri kan? Kita memang tak ada pilihan dah. Sekarang ni kita masih ada pilihan. Hari Sabtu tak boleh pakai beg plastik, kita pergi Jusco hari Ahad. Lagipun tak berkudislah kalau kita bawak beg sendiri. Hendaknya pulak kita berkereta sendiri. Cuba bayangkan orang yang tak berkereta seperti saya? Huhuhu...nangis kena susun barang depan rumah jiran. Dari tingkat bawah sampailah ke tingkat 5. Semua terjengul kepala keluar tingkap. Semua orang tahu apa kita beli. Semua orang tahu apa stok kita bulan tu. Kalau dalam beg tu tak ada siapa nampak. Beg tu pun ringan je. Bukannya kena angkat dengan forklift. Boleh lipat-lipat lagi. Tak adalah susah mana.

Tapi pemandu teksi tu kata, sebenarnya kalau Jusco bagi kita plastik pun kita akan recycle plastik tu untuk buang sampah. Plastik kecik-kecik ni senang nak buang sampah kalau banding dengan plastik sampah yang hitam yang besar tu. Nak menunggu sampah penuh, jenuh. Sempat sampah tu berulat dulu. Ni dah tak ada beg plastik, kalau nak buang sampah terpaksalah kena beli beg plastik tu pulak.

Betul jugak ye cakap dia. Tapi macam saya cakap tadi, kalau kita mengetahui akan kebaikannya untuk jangka masa panjang, kita akan fikir banyak kali. Saya tak tahu pusat membeli belah yang lain tetapi Jusco punya beg plastik terutama yang warna hijau tu, adalah dari jenis disposable. Kalau simpan beberapa bulan je, bila kita nak guna ia akan jadi macam roti kirai. Hancur.

Semuanya terpulang pada kita. Untuk melakukan sesuatu yang baik itu, semua bermula dari diri kita sendiri. Kalau setiap orang bermula dari diri sendiri, kempen ini akan berjaya. Insya-Allah.

Gloss: Saya tak kira, kurang orang lagi suka saya pergi. Senang saya nak rempit troli saya.

Gloss II: Cakap je pandai kau el.

Monday, 7 June 2010

Antara Balqis Silfia, Minn Edina & Aida Nurani





Sumber: Internet. Terima kasih.

Bukan nak buat review pun. Belum habis baca semua. Cuma nak membebel. Hiksss~

Di antara 3 novel ini, Setenang Cahaya Hati adalah yang mula-mula sekali saya beli dalam bulan lepas. Saya beli secara online melalui penulisnya.

Minggu berikutnya, saya ke MPH Alpha Angle. Saya terserempak dengan Yuda Di Padang Maya & Versus. Teruja sungguh nampak novel-novel ni.

Tetapi Versus yang saya sudahi dulu dengan wassalam. Hari ni beli, esok habis baca. Saya hairan betul dengan tarikan Hlovate ni. Novel dia ceritanya ringan je tetapi saya tak tahu apa yang buat saya sangat suka baca novelnya. Cara penulisannya lebih kurang macam Ahadiat Akashah atau Nass Alina. Lebih kurang tapi tak sama. Dulu pernah ada orang gelakkan saya sebab baca novel Ahadiat Akashah. Tengah buat professional degree pun baca lagi Ahadiat Akashah. Sekarang novel Ahadiat Akasyah dah pecah panggung. Siapa yang gelakkan saya dulu tu? Mana dia mana dia? Meh sini nak seligi sikit.

Sekarang ni berjangkit dengan Hlovate. Umur dah masuk setengah abad pun, masih baca novel tentang budak-budak yang baru nak membesar di universiti. Memang lembab la saya ni. Dari dulu lembab. Semuanya lambat.

Dari dulu saya cari puncanya kenapa saya suka baca novel yang ditulis seperti Hlovate dan Ahadiat Akashah. Belum jumpa tapi saya dapat rasakan ringannya novel mereka bukan ringan saja-saja. Contohnya Hlovate, ia sarat dan berat di dalam kepala saya yang mengatakan Hlovate adalah seorang yang sangat bijak, berpendidikan tinggi, berilmu bukan saja ilmu yang sedang dipelajarinya sekarang tapi ilmu di luar bidangnya juga dan tahu apa yang dia tulis. Technical jargon yang dia guna sikit pun tidak melunturkan kemahuan saya untuk berhenti membacanya hingga akhir. Novel Versus tu, saya habiskan jam 2.30 pagi. Mata pula macam faham-faham je. Tapi kalau mata saya bagitahu dia mengantuk pun, saya paksa dia buka sampai saya habis baca. Kalaulah bangun bertahajud kan bagus.

Saya terjumpa bermacam-macam orang tulis mengenai novel Hlovate di internet. Baik dan kurang baik. Cuba baca salah satunya kat bawah ni. Rasanya dia reply sebab orang cakap dia selalu tulis novel tentang growing up kot.

Assalamualaikum and greetings to all =)
I’m officially flabbergasted.If not,flattered[not to mention that I’ve been laughing my head off too in the middle of one hectic week-over reading this debate].It has never crossed me that ada orang yang sanggup took all the trouble to write half a thousand words of comment on my hikayat/cerita.

I found it surreal because I thought that nobody would bother,but yeah…I still found it amusing. I thank you,Mr.Minas Tirih for your thoughts and starting the forum. And that’s me being serious and sincere,not me being sarcasticAs weird as it sounds,I’m giving the nod to Mr.Minas Tirih’s points;to a certain degree anyway.No surprise there because I’m pretty much a skeptic on my works myself.haha.And I’m not a real big fan of stereo-Malay novels either,but I do dig for the certain kinds that totally blow me.So I think I do understand Mr.MT and his notion because I do think along the same line,and frankly speaking I’m not the tad offended.

But maybe a bit. Because I was surprised that Mr.MT was actually looking for the essence of romantic notions in the book,which I’ve to say I’ve deliberately disappointed you.Well,it’s either you’re stereotyping me or me here stereotyping you as the stereotype reader.

I’m not a big fan of romance.
Premise A:But the most readers are.
Premise B:And I love writing.
Conclusion:Hence to get people reading you stuff,love element is almost a definite answer. As a commercial value,attraction force.And just mere that.

I don’t really write with who-gonna-end-up-with-who in mind as a core.

As for explaining myself,here’s just the stuff that I’ve put in my blog that I hope will make it clear that I’m not really a who-gonna-end-up-with-who fan.Banyak lagi benda lain yang boleh dicerita.I’d rather have people stereotyping me as hlovate yang kerja tulis pasal cerita growing-up je.Because that’s what I’m doing anyway.“….aku menulis bukan sebab aku nak create dunia fantasy.aku jot down everything yang aku nak share dengan orang lain tentang apa yang aku tau.aku tak banyak ilmu.tapi aku cuma tau kisah hidup~aku,family aku,kengkawan aku.dunia nie classroom yang paling besar dengan God sebagai Teacher the Almighty.aku banyak belajar dengan tu.aku tak pandai tulis bahasa bunga-bunga untuk harukan hati orang.aku just tulis apa yang aku rasa dan nak orang rasa.tp macam kata kawan aku 'everything needs commercial value and attraction force'.maka aku pun draw je cerita tu ikut taste org yg nak baca,tapi dengan core yg aku ada sebagai basic color.nak share rasa dengan orang bukan senang.aku tak pandai melukis,so aku tak boleh draw n paint perasaan akuaku tak pandai menyanyi, aku tak boleh lagukan hati aku, aku takde art n skill,maka aku takleh nak shout out buat graffiti kat mana-mana dinding dan sebenarnye aku tak pandai pun menulis....aku tau throw out n spill je.I aint writing to create a fantasy love story.frankly speaking,I actually cant stand much mushy-lovey-dovey-stuff[one of the reason why GT_i[V] got me bad].sumer material yang dah publish kat sini,each ada core sendiri.the core is the reason that set me writing.the chenta part is mere fabrication.yeah…commercial value is a must kalau nak orang flip thru material kita.love element is an almost definite answer. Tapi ada je my material yang commercial value nyer overshadow the core....”

I always take reading as something very much similar to the other things yg we do to please our senses.Things like eating or listening to the music or even enjoying a painting.

If I’m craving for some nasi goreng belacan then I won’t be going to try to find it in a French restaurant serving escargot with butter-garlic sauce.It’s a futile effort la tu.Better try Warung Pak Ngah Baharom Taman Jaya.Or if I want something heavy and thrilling like super cili padi tom yam with nasi putih,then there’s no point of buying popcorn to satiate the appetite.Same goes with reading.If one wants to read about the philosophy of the theory of knowledge,find Aristotle or Plato,and not Judith McNaught.If one wants some thrill,find Dan Brown or Sue Grafton,not Noddy in Toyland[but I still find thrill in Enid Blyton’s Famous Five and Findouters....well,maybe that’s just me.I’m weird like that].

Things like reading/eating/whateverelse depend on the need of want during that particular time.I remember reading an article by Faizal Tehrani about popcorn novels =).It was seriously interesting.And I personally think reading is so like eating.Popcorn and junkies are bad for health,but that’s what people like most anyway.If they tend to take too much sugar overdose,well...they’ll get cavities.So,balance up then.Pickup Leo Tolstoy’s and Shahnon Ahmad’s for some slap of reality[the carb].Grab Allahyarham Dr.Usman Awang’s and Coleridgre-Wordsworth’s works to enjoy the beauty of language,words and poetry[the protein].Make some time for the articles in Times or Newsweek because they’re equivalent to vit and minerals to keep you in check.And you only need some small amount of sugar and fat and whatever nutrients the junkies have.And this’s the part where you grab some popcorn novels.Like popcorn,light novels pun ada sustenance even sesudu..Once in a while is okay,but don’t make it your staple diet.My ceritas are popcorn too.As surreal as it sounds,I won’t have people reading my ceritas as staple diet.That’s just absurd because there’s lots of much better stuff to baca for the carb sustenance.

Tapi no matter how objective I made it looked like above,reading is also as subjective as enjoying a painting.Each individual has different interpretations of what they see/hear/taste.Beauty and quality lies in the eyes of the beholder.Ever seen works by Goya?Some will just say that his darker works memang just plain barbaric from first glance.Some will say there’s beauty in the tragedy.And how about works by Yusof Gajah?Maybe orang sekali pandang akan kata his works looks so childish with all the quirks and bright colors.Well,I pity those who’re shallow then.Dan sama jugak dengan books.People ada interpretation sendiri.Some might some books as insightful,quirky,or whatever and others might find if as uber trash.It depends on the kind of person you’re really.Of what you want,and what you want to find.

I still watch Senario whenever I feel like I want a good laugh,and still think Lion of The Desert is the uber best film ever.

I don’t read RADHA because I want to know Syah akan end-up dengan Kaduk or Ammar.I read it because I want to follow how she membesar and belajar.I've said it numerous times-->I’m not a writer,I’m merely a storyteller.Because calling myself a writer will be an insult to the word itself.Writers are people like Tolstoy and Shahnon Ahmad and Hugo and Azizi Hj Abdullah and Louisa May Alcott.I’m a language butcher and God knows how many laws of language and literature that I’ve crashed in one go.Not to mention that I’ve never been enrolled into any writing classes,hence it’s my sincere apology if my works lack the whatever quality-theory that should be.I just spilled.

And also it’s my sincere apology to any of you if you find this piece offensive,or if my works are insulting your intelligence.

Like what I’ve said,don’t go for popcorns if you want some nasi goreng.

Well yeah…I’d rather be hated for what I am than to be loved for what I’m not =)p/s:And for the record for the umpteenth time,I still have issues with GT_i.I’ll be totally fine if people want to call it picisan or whatever.And please don’t bother to read it when it’s out if you’re not up for triple-honey-sugar-coated-popcorn-drenched-in-caramel-sauce.It still keeps me on the verge of grabbing anti-emetics.

Just so you know.
You’ve been warned.
May Allah bless.
Enjoy reading and shoutouting.

Nampaknya tulisan dia yang saya copy paste dari sumber ini lebih panjang dari tulisan saya.

Saya sedang berada di pertengahan Setenang Cahaya Hati.

Jadilah Cerdik Yang Berakal

Saya telah berjanji dengan diri sendiri tidak akan menulis blog ini selagi 12 orang rakyat Malaysia tidak pulang. Alhamdulillah mereka telah kembali semalam. Linangan airmata mengiringi mereka padahal tidak seorang pun ada pertalian darah dengan saya. Yang nyata mereka saudara seagama saya.

Mendengar pengalaman dari mulut mereka sendiri di dalam rancangan "Palestin, Kami Bersamamu" di RTM1 semalam membuatkan saya terdiam. Tak jadi nak masuk tidur. Sakit hati, sakit mata. Segalanya sakit. Saya hanya berdoa di dalam hati. Saya juga mengharapkan agar RTM menyiarkan sarikata rancangan itu di dalam bahasa inggeris supaya dapat ditonton oleh semua umat manusia di dunia ini tidak kira melalui media apa pun. Yang paling berkesan sekarang adalah YouTube.

Kenyataan dari Tzipi Livni, Menteri Luar Isra*l di dalam rancangan Global@1 di RTM1 malam tadi begitu bersahaja dengan memandang skrip di hadapannya. Entah apalah agaknya yang dimahukan dari negara yang telah dihancurkan oleh tangan tenteranya sendiri.

Mereka yang "cerdik" di Isra*l sana tidak tahu membezakan di antara bahawa datangnya bantuan itu adalah bersifat kemanusiaan atau fahaman agama. Mereka tidak tahu langsung membezakan. Sayang bagi mereka yang dikatakan umat manusia yang sangat bijak (tetapi kurang menggunakan akal). Di dalam kepala mereka mempunyai persepsi bahawa semua bantuan yang datang adalah atas nama agama Islam. Mereka tidak langsung memikirkan bahawa bukan semua manusia di dalam flotilla itu beragama Islam. Mengambil teks dari rancangan Global@1, "jika mereka (dibaca: Isra*l) bijak memalsukan paspot, mereka juga tidak mustahil memalsukan semua gambar/video insiden Mavi Marmara". Memang betullah tu (sila baca tentang Mossad iaitu agensi risikan Isra*l di dalam Majalah-i isu April tentang pemalsuan paspot).

Ok cukup setakat itu kerana saya percaya sudah ramai yang berkisah tentang ini sejak ianya berlaku. Alhamdulillah, 12 orang mereka telah selamat. Saya menunggu lagi 6 orang yang akan pulang.

Pesanan untuk anda dan saya sendiri, sayangi agama kita dan juga sayangilah kita sesama manusia.